Selasa, 22 September 2015

SOE HOK GIE "Suka Naik Gunung". Whatever ???

Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak.

*Soe Hok Gie pantas ditempatkan pada urutan atas dalam daftar tokoh-tokoh Tionghoa dalam sejarah perjuangan Indonesia. Soe Hok Gie dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 17 Desember1942. Ia adalah seorang aktivis yang menentang kediktatoran Presiden Soekarno dan Soeharto.

Ia warga Tionghoa yang beragama Katolik Roma. Leluhur Soe Hok Gie berasal dari provinsi Hainan, Republik Rakyat Tiongkok. Ayahnya bernama Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Soe Hok Gie anak keempat dari lima bersaudara di keluarganya. Kakaknya Arief Budiman yang seorang sosiolog dan dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, juga cukup kritis dan vokal dalam politik Indonesia. Setelah tamat dari SMA Kolese Kanisius, Soe Hok Gie kuliah di Universitas Indonesia (1962-1969). Setelah menyelesaikan tamat, ia menjadi dosen di almamaternya hingga kematiannya*.
(*sumber : Jakarta Greater ).



Ada sebuah kesan menarik pada saat saya menonton film Soe Hoe Gie yang ke 4x di kediaman RT 05 FT- Mapala alaska lewat laptop saat itu. Kesan menariknya ada pada saat Adegan Soe Hoek Gie yang di bintangi oleh Nicholas Saputra, didekati oleh wanita-wanita atau pada saat mengobrol dengan para sahabatnya. Beliau atau Soe Hok Gie selalu mengeluarkan kalimat ''Suka Naik Gunung" diawal pembuka obrolan lewat filmnya itu___. Whatever..????.

Sebenarnya ada banyak alasan yang dapat menjelaskan mengapa banyak orang suka naik Gunung. Tapi kali ini saya coba mengulas 2 versi pandangan manusia '' suka naik gunung''. Yang pertama pandangan ''suka naik gunung'' versi pencinta alam masa kini dan yang kedua atau terakhir pandangan versi Soe Hok Gie.

Pandangan makna '' Suka Naik Gunung" versi Pecinta Alam masa kini :
Dari beberapa teman Pecinta Alam yang pernah saya tanya, rata-rata mereka apabila di berikan pertanyaan seperti itu. Maka kebanyakan dari mereka akan menjawab karena naik Gunung itu bisa menghilangkan strees akibat pekerjaan yang mereka alami. 
Namun ada juga yang mengatakan bahwa kalo kita "suka naik gunung", maka kita akan lebih menghargai apa yang telah Tuhan ciptakan di dunia ini dengan melihat pemandangan-pemandangan alam sepanjang jalan pendakian. 

Pandangan makna ''Suka Naik Gunung'' versi  Soe Hok Gie :
Menurut Soe Hok Gie ketika mendaki gunung Slamet dan pertama kali, beliau menjelaskan dengan gamblang makna ''Suka naik Gunung'' bahwa :

"Kami katakan bahwa kami manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari Hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objeknya. dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung. Melihat alam dan rakyat dari dekat secara wajar dan disamping itu menimbulkan daya tahan fisik yang tinggi".

Makna alasan yang bijak,nasionalis dan idealis dari Soe Hok Gie yang seorang aktivis yang sangat senang naik gunung.



Jika dihubungkan antara kedua versi ini, maka akan timbul kesimpulan bahwa :
"Versi pecinta alam adalah sebuah penjelasan peradaban dunia, dan rutinitas akan kebiasaan mereka ketika melakukan aktivitas naik gunung. Sedangkan pada Versi Soe Hok Gie, makna ''suka naik gunung'' memiliki alasan yg khusus bersifat nasionalis yang mengisyaratkan pergulatan filosofis terhadap Alam''.

Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, saya sebagai penulis hanya bisa berharap bahwa pemuda yang menjadi pecinta alam saat ini, dan "suka naik gunung".  Dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih baik dalam pengabdian kepada masyarakat maupun kecintaan-nya terhadap alam raya dan lingkungan sekitarnya.

Mendaki gunung memang selalu menarik, apalagi kalau sudah terlanjur "jatuh cinta". Dari anak kecil sampai yang berusia lanjut, dari yang opurtunis sampai yang idealis maupun yang sekedar "asal" dan yang profesional bahkan untuk kepentingan ritual tak mampu berkelit dari  ''sihirnya". Namun apapun maksud tujuan dan alasannya,.. "tanggung jawab kita-lah harus menjadi proriotas, untuk menjaga tanpa harus merusak vegetasi makhluk hidup yang ada didalam-nya pada saat mendaki gunung.

Sekian & Terima Kasih.

Lius Kristan, ST / MP.XIV.07.128
Mahapati Makassar.


Ditulis : Di Kediaman RT/05 FT Mapala Alaska Universitas Negri Gorontalo.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar